
- Orang yang dapat menerbangkan debu di waktu subuh adalah orang yang berada di garis kemenangan. Kemenangan tidak tergantung pada kekuatan pedang atau senjata, ketangguhan prajurit dan kekuatan benteng pertahanan, kemenangan yang hakiki itu berasal dari hati dan agama yang kita yakini –
-11 Agustus 2010-
Aku ini adalah tetesan air di daun, aku akan melewati dan akan segera mengakhiri petualangan ini, dan di tahun berikutnya ini akan menjadi sebuah memori keindahan dalam dunia khayalku. Banyak suka dan duka yang aku rasakan semenjak kedatanganku, ingin rasanya aku selalu berbagi dengan kawan sekalian, terlalu banyak hal yang ingin aku bagi, sehingga aku kesulitan untuk memulainya.
Disini aku tidak akan membahas tentang keong racun atau Abu Bakar Basyir, aku yakin, media massa di Indonesia cukup piawai dalam memberitakan ini, aku hanya ingin berbagi pengalaman selama satu minggu terakhir. Satu hal yang ingin aku bagi dengan kawan sekalian, bahwa kawan sekalian yang sedang belajar bahasa Jerman adalah mungkin selalu menjadi yang terbaik disini. Orang asing yang berada di sini bukanlah orang yang hebat dalam berkomunikasi, aku sering kesulitan dalam berkomunikasi, begitupun dengan teman-teman disini. Terkadang aku tertawa sendiri, mendengar teman-teman disini berbicara bahasa Jerman, mereka terkadang salah menkonjugasikan dan mempunyai aksen masing-masing, tergantung darimana mereka berasal. Salah satu teman aku yang berasal dari Rep.Ceko mempunyai kemampuan yang piawai dalam berbahasa dan berkomunkasi, namun terkadang aku tertawa melihat gaya berbicara dia, mengingatkan aku dengan seorang sahabat, dia mempunyai aksen dan gaya bicara yang melebihi orang jerman, lebih jerman dari orang jerman sendiri. Terkadang dia juga salah dalam menentuka verben dalam suatu kalimat, dan aku sering tertawa karenanya.
Mungkin itu sekilas pendapatku tentang kemampuan komunikasi, tidak semua orang asing yang sedang belajar bahasa asing disini mempunyai kemampuan yang hebat, bahkan aku dapat memastikan bahwa kawan sekalian lebih baik dari mereka, dan lebih hebat dari aku tentunya.
-7 Agustus 2010-
Hari ini, akan menjadi hari yang sulit bagiku dan teman-teman. Aku hampir tidak mempunyai waktu yang cukup untuk sekedar merebahkan badan ini, banyak yang harus aku lakukan disini.
Hari ini aku akan mengikuti exkursi - Rhein-Fahrt. Aku akan bertualang ke beberapa tempat hari ini Mainz am Rhein, Rhein, Rüdesheim, dan Loreley Stadt. Hal yang sangat luar biasa adalah ketika aku mengunjungi Loreley Stadt. Ya, aku sudah akrab dengan Loreley, mungkin juga kawan sekalian, aku belajar dan mengenal tentang Loreley di ruang kuliahku. Sebuah hal yang menyenangkan, bila kawan belajar akan sesuatu, kemudian kawan menemukan hal itu di dunia nyata. Itu semua aku rasakan disini, aku belajar tentang kerajaan jerman, dan sekarang hal itu nyata berada tepat di depan ke dua mataku.
Di Mainz, aku mengunjungi DOM atau gereja, dan beberapa tempat bersejarah. Aku, dan beberapa teman : Julius (Rep.Ceko), Barteg (Polandia), Bill (China), dan Oana (Rumania), terpisah dari kelompok kami, kami benar-benar hilang di tengah kota Mainz. Kami memutuskan untuk mengunjungi tempat lain, yang tidak dilakukan oleh kelompok kami. Kami mengunjungi salah satu peninggalan tua di tengah kota, sangat menggagumkan, melihat peninggalan itu, seakan aku tertarik ke masa dahulu.
Akhirnya kami bergabung dengan kelompok kami dan meneruskan perjalanan untuk menaiki kapal pesiar. Menyusuri sungai Rhein menuju Rüdesheim dan melewati Loreley Stadt. Perjalanan itu berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Aku melihat begitu banyak tower di sisi kanan dan kiri, dan hamparan kebun anggur. Kota ini terkenal sebagai penghasil Wein di Jerman.
- Rüdesheim
Ini adalah kota kecil, tetapi sarat dengan panorama indah. Disini banyak toko-toko berjajar menawarkan barang-barang yang menarik. Aku dan kelompok dipandu oleh seorang pemandu wisata dari univ Heidelberg. Acara pertama kami adalah mengunjungi kedai wein, kami akan di jamu disana. Bir dan wein menjadi hal yang biasa disini. Semenjak kedatanganku, aku sudah terbiasa melihat wein dan bir, tetapi tidak pernah sedikitpun mencicipinya, itu karena sesuatu hal yang aku yakini.
Di kedai tua itu, kami dijamu dengan sangat ramah dan disuguhkan dengan wein yang dibuat di kedai itu. Aku hanya bisa menatap dan meminum air putih yang aku bawa. Disini aku selalu membawa sebotol air putih atau membeli cola untuk sekedar melepas dahaga.
Tidak banyak hal yang kami lakukan disini, hanya sekedar mengelilingi kota itu. Kemudian kami kembali menuju Heidelberg. Sebuah kota indah, dimana semua mahasiswa berkumpul dan disuguhkan dengan panorama yang benar-benar indah, aku merasa seperti di rumah. Ya, Heidelberg atau HD persis seperti Bandung, udaranya bisa mencapai 18 atau 19 derajat.
Aku mulai rindu dengan Indonesia. Ya Negara yang kacau, namun sangat aku bela. Disini hidup serasa monoton, tidak seperti di Indonesia, kita dapat bergerak bebas semau kita. Biarpun aku mulai terbiasa dengan makanan disini, tetap aku sangat rindu dengan aroma masakan di Indonesia. Besok hari yang luar biasa, aku akan melakukan perjalanan ke salah satu kota di Perancis yang berbatasan langsung dengan Jerman..Bonjour..!!!

