Powered By Blogger

Sabtu, 29 Oktober 2011

CATATAN BUKAN TERAKHIR (part III)


- Orang yang dapat menerbangkan debu di waktu subuh adalah orang yang berada di garis kemenangan. Kemenangan tidak tergantung pada kekuatan pedang atau senjata, ketangguhan prajurit dan kekuatan benteng pertahanan, kemenangan yang hakiki itu berasal dari hati dan agama yang kita yakini –

-11 Agustus 2010-

Aku ini adalah tetesan air di daun, aku akan melewati dan akan segera mengakhiri petualangan ini, dan di tahun berikutnya ini akan menjadi sebuah memori keindahan dalam dunia khayalku. Banyak suka dan duka yang aku rasakan semenjak kedatanganku, ingin rasanya aku selalu berbagi dengan kawan sekalian, terlalu banyak hal yang ingin aku bagi, sehingga aku kesulitan untuk memulainya.

Disini aku tidak akan membahas tentang keong racun atau Abu Bakar Basyir, aku yakin, media massa di Indonesia cukup piawai dalam memberitakan ini, aku hanya ingin berbagi pengalaman selama satu minggu terakhir. Satu hal yang ingin aku bagi dengan kawan sekalian, bahwa kawan sekalian yang sedang belajar bahasa Jerman adalah mungkin selalu menjadi yang terbaik disini. Orang asing yang berada di sini bukanlah orang yang hebat dalam berkomunikasi, aku sering kesulitan dalam berkomunikasi, begitupun dengan teman-teman disini. Terkadang aku tertawa sendiri, mendengar teman-teman disini berbicara bahasa Jerman, mereka terkadang salah menkonjugasikan dan mempunyai aksen masing-masing, tergantung darimana mereka berasal. Salah satu teman aku yang berasal dari Rep.Ceko mempunyai kemampuan yang piawai dalam berbahasa dan berkomunkasi, namun terkadang aku tertawa melihat gaya berbicara dia, mengingatkan aku dengan seorang sahabat, dia mempunyai aksen dan gaya bicara yang melebihi orang jerman, lebih jerman dari orang jerman sendiri. Terkadang dia juga salah dalam menentuka verben dalam suatu kalimat, dan aku sering tertawa karenanya.

Mungkin itu sekilas pendapatku tentang kemampuan komunikasi, tidak semua orang asing yang sedang belajar bahasa asing disini mempunyai kemampuan yang hebat, bahkan aku dapat memastikan bahwa kawan sekalian lebih baik dari mereka, dan lebih hebat dari aku tentunya.

-7 Agustus 2010-

Hari ini, akan menjadi hari yang sulit bagiku dan teman-teman. Aku hampir tidak mempunyai waktu yang cukup untuk sekedar merebahkan badan ini, banyak yang harus aku lakukan disini.

Hari ini aku akan mengikuti exkursi - Rhein-Fahrt. Aku akan bertualang ke beberapa tempat hari ini Mainz am Rhein, Rhein, Rüdesheim, dan Loreley Stadt. Hal yang sangat luar biasa adalah ketika aku mengunjungi Loreley Stadt. Ya, aku sudah akrab dengan Loreley, mungkin juga kawan sekalian, aku belajar dan mengenal tentang Loreley di ruang kuliahku. Sebuah hal yang menyenangkan, bila kawan belajar akan sesuatu, kemudian kawan menemukan hal itu di dunia nyata. Itu semua aku rasakan disini, aku belajar tentang kerajaan jerman, dan sekarang hal itu nyata berada tepat di depan ke dua mataku.

Di Mainz, aku mengunjungi DOM atau gereja, dan beberapa tempat bersejarah. Aku, dan beberapa teman : Julius (Rep.Ceko), Barteg (Polandia), Bill (China), dan Oana (Rumania), terpisah dari kelompok kami, kami benar-benar hilang di tengah kota Mainz. Kami memutuskan untuk mengunjungi tempat lain, yang tidak dilakukan oleh kelompok kami. Kami mengunjungi salah satu peninggalan tua di tengah kota, sangat menggagumkan, melihat peninggalan itu, seakan aku tertarik ke masa dahulu.

Akhirnya kami bergabung dengan kelompok kami dan meneruskan perjalanan untuk menaiki kapal pesiar. Menyusuri sungai Rhein menuju Rüdesheim dan melewati Loreley Stadt. Perjalanan itu berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Aku melihat begitu banyak tower di sisi kanan dan kiri, dan hamparan kebun anggur. Kota ini terkenal sebagai penghasil Wein di Jerman.

- Rüdesheim

Ini adalah kota kecil, tetapi sarat dengan panorama indah. Disini banyak toko-toko berjajar menawarkan barang-barang yang menarik. Aku dan kelompok dipandu oleh seorang pemandu wisata dari univ Heidelberg. Acara pertama kami adalah mengunjungi kedai wein, kami akan di jamu disana. Bir dan wein menjadi hal yang biasa disini. Semenjak kedatanganku, aku sudah terbiasa melihat wein dan bir, tetapi tidak pernah sedikitpun mencicipinya, itu karena sesuatu hal yang aku yakini.

Di kedai tua itu, kami dijamu dengan sangat ramah dan disuguhkan dengan wein yang dibuat di kedai itu. Aku hanya bisa menatap dan meminum air putih yang aku bawa. Disini aku selalu membawa sebotol air putih atau membeli cola untuk sekedar melepas dahaga.

Tidak banyak hal yang kami lakukan disini, hanya sekedar mengelilingi kota itu. Kemudian kami kembali menuju Heidelberg. Sebuah kota indah, dimana semua mahasiswa berkumpul dan disuguhkan dengan panorama yang benar-benar indah, aku merasa seperti di rumah. Ya, Heidelberg atau HD persis seperti Bandung, udaranya bisa mencapai 18 atau 19 derajat.

Aku mulai rindu dengan Indonesia. Ya Negara yang kacau, namun sangat aku bela. Disini hidup serasa monoton, tidak seperti di Indonesia, kita dapat bergerak bebas semau kita. Biarpun aku mulai terbiasa dengan makanan disini, tetap aku sangat rindu dengan aroma masakan di Indonesia. Besok hari yang luar biasa, aku akan melakukan perjalanan ke salah satu kota di Perancis yang berbatasan langsung dengan Jerman..Bonjour..!!!

CATATAN BUKAN TERAKHIR (PART II)


- 28 Juli 2010. –


- “Hidup adalah strategi” ungkapan yang ingin aku terus patri dalam hidupku. Agar aku yang bodoh ini tetap bisa terjaga dalam kehidupan ini dan bersaing dengan orang-orang hebat. –

Hari ini hari yang cukup sulit bagiku, karena aku melakukan perjalanan selama kurang lebih 2 jam, dari Frankfurt am Main menuju Heidelberg, dengan kondisi tubuh yang lemah. Ya, kemarin aku bersama kerabat dan kakakku mengililingi Frankfurt. Sebuah penyambutan yang biasa dilakukan bagi peghuni baru seperti aku. Petualangan kemarin dimulai dari pukul 13.00, dimana aku mempunyai janji dengan kerabatku Rudi, rencananya kita akan bertemu di stastiun kereta di bandara (S-Bahn). Aku berangkat dari Frankfur Hbf (Hauptbahnhof).
12.30 aku sudah berada di stasiun bandara. Aku menghitung setiap menit yang berjalan, memang waktu menjad musuh disini, dimana orang-orang disini begitu menghargai waktu. Karena aku buanlah tipe orang yang tunduk dengan waktu.
Setiap S-Bahn yang berhenti aku berdiri, berharap kerabatku segera datang. Jam sudah menunjukkan 13.30, kerabatku belum juga tiba, atau mungkin dia telah tiba.
Lalu aku menuju bandara, melewati lorong bawah tanah dan menuju permukaan tanah, dan disambut dengan situasi yang begitu ramai. Aku mulai berjalan mengelilingi semua terminal keberangkatan waiting room, namun nihil. Kawan tau kenapa kami sangat ingin bertemu?karena pertemuan dengan kerabat di negeri asing adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Dimana kita dapat menikmati rasa rindu kita di tempat impian kita bersama.
Selama kurang lebih hampir tiga jam aku meneusuri setiap terminal keerangkatan, namun kami belum bertemu, dan akhirnya jam tiga tepat, aku memutuskan untuk pergi kembali ke Frankfurt Hbf.
15.40 aku sudah berada lagi di Frankfurt Hbf. Disini jarak sangat tidak berarti, orang dapat bepergian dengan mudah dan tepat waktu.
Aku mempunyai janji dengan kakakku sekitar pukul 5 sore. Dan akhirnya aku bertemu dengan seorang petualang juga, ya akhirnya dia datang. Dan segera kami berjalan kaki mengelilingi kota Frankfurt, dan berbincang-bincang mengenai banyak hal.
Sampai pada persimpangan di sebuah tempat, aku melihat lambang sebuah secret society (iLLuminati*****) dengan lambang seperti membentuk sebuah mata dan segitiga didalamnya. Mungkin ini hanya sebuah lambang dan benar-benar sebuah kebetulan (pikiran liar aku mulai bertanya-tanya tentang itu).
Dan akhirnya kami sampai di Dam, disana kami menemukan toko souvenir yang lumayan murah, dan aku membeli beberapa untuk aku bawa pulang, dan dia membeli beberapa baju. Kemudian kami menemukan sebuah Flohmarkt Buchhandlung, dan kami pun membeli beberapa buku.
Sebelumnya aku mengunjungi patung salah satu raja di sejarah kerajaan jerman. Dan hal ini yang aku didapat perkuliahan, dan sekarang itu seperti menjadi nyata.
Dan kami bertemu dengan kembu de marco, seorang yang harus dan wajib ditemui jika kawan ke Frankfurt. Dia tahu segala hal, dan aku bilang “mahar “Frankfurter Koenig”” .
Dan baru sekitar jam 12 malam kurang, aku, mahar dan seorang kerabat dari mahar sampai di rumah. Sekejap aku menutup mata ini, berharap aku baik-baik saja.


Dan akhirnya, disinilah aku, di kereta IC menunggu untuk bertemu dengan kerabat yang lain di Heidelberg.

- Tidak ada suatu kehinaan dalam hidup ini, selama kita mempunyai strategi untuk membuat itu berharga –

Bagus “xbagoyx”

Selasa, 10 Mei 2011

Laskar P2M -Bayongbong


-Layar sudah terkembang, perahu ini siap untuk mengarungi ganasnya lautan. Pantang bagi kami untuk patah arang, dan kembali, sebelum tujuan itu tercapai.-

Seperti yang kawan ketahui, bahwa hari ini, negeri yang sekarang kita pijak berada dalam sebuah lubang hitam, yang akan membawa kita dalam ketidakpastian. Tapi kali ini, aku tidak ingin membicarakan hal tersebut, ingin aku membicarakan hal-hal yang pasti dan riil. Negeri ini, Indonesia, “membutuhkan aktor, bukan komentator” kata-kata ini aku kutip dari sebuah film pendek buatan seorang sahabat, yang sedang menimba ilmu di jerman (setia desta).

Beberapa hari ini aku merasakan peran sebagai aktor, aktor dari sebuah kegiatan bernama “pengabdian”, yang aku lakoni bersama ratusan actor, yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Aku yakin, bila ada semacam penghargaan actor terbaik dari FFI, maka kawan semua adalah actor-aktor terbaik. Seperti layaknya film Laskar pelangi dan laskar pemimpi, yang kemudian terwujud dalam pengabdian itu, dan serta merta membentuk Laskar P2M. Percayalah!karena ini semua bukanlah sekedar cerita, tapi semua ini adalah sebuah bentuk riil, tidak seperti para politikus yang hanya bisa melontarkan komentator atas kondisi negeri ini, biarpun yang kita lakukan masihlah sangat kecil, yaitu pengabdian di masyarakat yang termarjinalkan, desa Patengan, kp. Bayongbong.

-30 Januari 2010-

Laskar merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan sama dan besar, layaknya laskar Dumbledor dalam film HP, yang melawan kejahatan Voldemort, seperti Laskar Pelangi, yang mengejar angan-angan setinggi-tingginya. Namun, laskar kali ini, adalah laskar dengan sejuta angan-angan meniti pendidikan di daerah dan memasyarakatkan diri, mereka adalah “LASKAR P2M”

Kini kali ke-tiga bagi aku menjadi SC dalam pengabdian itu, dan kali ke-lima aku mengikutinya. Tahun 2006 adalah tahun pertama aku mengikuti kegiatan itu, yang bertempat di Subang, dengan status peserta sekaligus DPM. Di tahun berikutnya, 2007, di Majalaya, aku kembali berkeeampatan mengikuti kegiatan itu, sebagai status panitia. Tahun 2008, di Garut, aku dipercaya pertama kalinya menjadi SC dalam kegiatan itu, dengan status sekjen DSV. Pada tahun 2009, di Purwakarta aku diberikan amanah sebagai SC, biarpun status aku waktu itu adalah warga DSV. Dan akhirnya, mungkin tahun ini, 2011, Patengan, adalah tahun terakhir bagi aku untuk bisa menyumbangkan sumbangsih yang bisa aku berikan sebagai SC, dengan status DPM.

Pagi-pagi buta, saat matahari saja masih belum menampakkan dirinya, malu mungkin untuk melihat hari ini yang begitu kacau, atau mungkin malu karena kawanku sedang bersiap untuk melakukan pengabdian?Entahlah saat itu, aku benar-benar berdebar, pikiranku mencoba menerka, cerita apa yang akan aku dapat kali ini dari kegiatan pengabdian itu. Bagi kami, yang telah berkali-kali mengikuti kegiatan ini, selalu ada cerita berbeda, dan kenangan yang luar biasa, yang pastinya menjadi cerita seumur hidup.

Sekitar pukul 8, truk-truk mungkin sudah bersiap mengantarkan kawanku semua ke desa Patengan. Namun, Aku, tesar, Revelation, de Yur, dan Ustad Ikhsan berencana untuk tidak mengikuti rombongan. Baru sekitar pukul 10 kami pun berangkat. Menyusuri jalan-jalan yang berliku. Kawan tau apa yang kami pikirkan sepanjang perjalanan?-ya, kami mecoba untuk menerka seperti apa kegiatan pengabdian itu berlangsung.

Setelah kami sampai di sekitaran Ranca Bali, kamu disambut dengan pemandangan indah perkebunan teh, dengan aroma khas yang tidak kami ketemui di perkotaan. Sayangnya perjalanan terhenti akibat cuaca yang tidak mendukung. Kami menepi dan bercengkrama ditemani semangkok mie panas dan kebun teh yang terhampar luas.

Hujan pun berhenti dan kami melanjutkan perjalanan. Siang hari kami sudah sampai di desa itu, desa Patengan, kp.Bayongbong, dimana kami akan bergabung dengan aktor-aktor lainnya untuk melakukan rangkaian kegiatan yang lamanya satu minggu.

Kemudian petualangan itu pun berlanjut….

(bersambung)

Minggu, 08 Mei 2011

CATATAN BUKAN TERAKHIR (PART 1)


- Senin, 26 Juli 2010, Dubai international airport –

Wünsche immer die beste für euch und mich, und alles Güte

o Sebuah seri petualangan akan dimulai, ini bukanlah seri seperti si Bolang, yang mengisahkan kisah petualangan anak-anak negeri, tetapi ini adalah seri petualangan dari Bagus Sapa Handaru.

Minggu, 25 Juli 2010,
petualangan itu dimulai dari kota tercinta. Perjalanan melelahkan menuju Bogor menguras emosi dan stamina kami. Perjalanan itu aku mulai bersama orang tuaku. Sampai pada akhirnya, sekitar jam 18.30 WIB kami tiba di bandara SOETTA, terminal 2 D untuk penerbangan internasional. Kami harus menunggu sampai waktunya untuk check-in, sedangkan waktu take off yang aku dapat adalah jam 00.40 WIB. Waktu semakin membawaku ke dalam unknown vortex point, dimana pikiran dan ragaku seolah terpisah.

Jam 10.00 WIB. Ini adalah saatnya aku check-in. Saat itu juga aku mulai merasakan gejolak kesedihan, saat melihat kedua orang tuaku menatapku, penuh dengan harap, biarpun petualangan ini hanya sekitar satu bulan lamanya, mungkin bagi mereka adalah satu tahun. Dulu sekitar awal tahun 2009, aku teringat, aku meminta kepada orang tuaku, untuk meneruskan studi di Jerman. Namun, hal itu sangatlah mustahil, mengingat ekonomi keluarga tidaklah seperti Bakrie. “keinginan kamu sudah tercapai!” ucap orang tuaku, aku rasakan mata ini semakin perih. Pernakah kawan semua mempunyai mimpi?Dan mimpi itu bukanlah mimpi biasa, namun sebuah mimpi spesial dari bagian hidup kawan semua?Kemudian, mimpi itu terwujud, dan kesempatan itu datang ke depan mata kawan semua?Kira-kira seperti itulah perasaanku. Bagai luapan air panas, ingin rasanya meledak. Aku teringat sebuah kalimat yang terpatri jelas dalam pikiranku, “kesuksesan anak, adalah karena doa dan restu orang tua, karena orang tua kita selau mendoakan kita”. Pernah terlintas sebuah ketakutan besar dalam benakku, saat orang tuaku tidak mendoakan dan memberikan restu kepadaku. Perlahan wajah mereka menghilang dari pandangan, aku sudah ada di bagian imigrasi.

Saatnya boarding tiba.

Kemarin di bandara Soetta, di waiting area, aku masih melihat banyak orang Indonesia, dengan berbagai keperluan, seperti TKI, mungkin juga bisnis atau liburan.

00.30 WIB aku sudah ada di dalam pesawat. Dan menunggu waktu untuk take off. Banyak hal yang membuat aku tertawa sendiri. Mungkin karena itu adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat.

Selama perjalanan aku memainkan game yang ada, dan juga menonton Film. Seorang Arab berbadan besar dan gendut duduk di sebelah ku. Ingin rasanya aku terlelap dalam mimpi, tapi sangat tidak mungkin, orang arab itu mendengkur cukup keras, memaksa aku melihat ke bangku yang lain, berharap mendapat bangku kosong, namun nihil. Sampai pada saatnya mata ini terlelap begitu saja, dengan tangan kananku menyanggah kepalaku. Orang itu berbaring di bangku untuk 4 orang dan aku ada di ujung sebelah kiri. Benar-benar menyebalkan. Terlelap sekejap, terbangun oleh turbulensi dan tanganku mengenai kepala orang arab itu dan membuat dia terbangun. Seketika itu juga dia menatapku, spontan aku berkata “sorry sir, that’s not my fault, but pilot”. Dia kembali tertidur.

Saatnya makan tiba. Dan aku sedikit bingung dengan menunya..entah apa itu namanya menu pertama. Yang jelas sangat tidak enak. Tetapi menu breakfast Asparagus with omelet lumayan untuk ukuran lidah dan seleraku.

Dan sampailaha aku di Dubai. Membuka pembicaraan ringan dengan seorang bapak yang ingin ke Jeddah.

Dubai, sebuah kota yang konon di desain untuk para elite, gaya hidup yang serba mewah dan menunjukkan budaya baratnya. Terlihat dari sepanjang koridor keberangkatan yang dipenuhi dengan toko-toko serba mewah. Kaki ini terhenti di book store. Kawan semua tahu apa yang ingin aku lihat di toko buku itu?Sebuah kebiasaan yang aku lakoni bersama sahabat di Bandung, yaitu mencari buku tentang perjuangan-perjuangan akan kemerdekaan melawan rasisme. Dan tida ada buku tentang itu, justru yang banyak terpampang adalah buku tentang kedigdayaan Israel** di timur tengah dan sekutunya AS.

Aku tidak menjumpai buku-buku yang menceritakan sebuah perlawanan terhadap elite, seperti yang aku jumpai di Indonesia.



Dan disinilah aku, Dubai international airport, waiting room gate 206, menulis cerita amatir ini.