Powered By Blogger

Selasa, 10 Mei 2011

Laskar P2M -Bayongbong


-Layar sudah terkembang, perahu ini siap untuk mengarungi ganasnya lautan. Pantang bagi kami untuk patah arang, dan kembali, sebelum tujuan itu tercapai.-

Seperti yang kawan ketahui, bahwa hari ini, negeri yang sekarang kita pijak berada dalam sebuah lubang hitam, yang akan membawa kita dalam ketidakpastian. Tapi kali ini, aku tidak ingin membicarakan hal tersebut, ingin aku membicarakan hal-hal yang pasti dan riil. Negeri ini, Indonesia, “membutuhkan aktor, bukan komentator” kata-kata ini aku kutip dari sebuah film pendek buatan seorang sahabat, yang sedang menimba ilmu di jerman (setia desta).

Beberapa hari ini aku merasakan peran sebagai aktor, aktor dari sebuah kegiatan bernama “pengabdian”, yang aku lakoni bersama ratusan actor, yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Aku yakin, bila ada semacam penghargaan actor terbaik dari FFI, maka kawan semua adalah actor-aktor terbaik. Seperti layaknya film Laskar pelangi dan laskar pemimpi, yang kemudian terwujud dalam pengabdian itu, dan serta merta membentuk Laskar P2M. Percayalah!karena ini semua bukanlah sekedar cerita, tapi semua ini adalah sebuah bentuk riil, tidak seperti para politikus yang hanya bisa melontarkan komentator atas kondisi negeri ini, biarpun yang kita lakukan masihlah sangat kecil, yaitu pengabdian di masyarakat yang termarjinalkan, desa Patengan, kp. Bayongbong.

-30 Januari 2010-

Laskar merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan sama dan besar, layaknya laskar Dumbledor dalam film HP, yang melawan kejahatan Voldemort, seperti Laskar Pelangi, yang mengejar angan-angan setinggi-tingginya. Namun, laskar kali ini, adalah laskar dengan sejuta angan-angan meniti pendidikan di daerah dan memasyarakatkan diri, mereka adalah “LASKAR P2M”

Kini kali ke-tiga bagi aku menjadi SC dalam pengabdian itu, dan kali ke-lima aku mengikutinya. Tahun 2006 adalah tahun pertama aku mengikuti kegiatan itu, yang bertempat di Subang, dengan status peserta sekaligus DPM. Di tahun berikutnya, 2007, di Majalaya, aku kembali berkeeampatan mengikuti kegiatan itu, sebagai status panitia. Tahun 2008, di Garut, aku dipercaya pertama kalinya menjadi SC dalam kegiatan itu, dengan status sekjen DSV. Pada tahun 2009, di Purwakarta aku diberikan amanah sebagai SC, biarpun status aku waktu itu adalah warga DSV. Dan akhirnya, mungkin tahun ini, 2011, Patengan, adalah tahun terakhir bagi aku untuk bisa menyumbangkan sumbangsih yang bisa aku berikan sebagai SC, dengan status DPM.

Pagi-pagi buta, saat matahari saja masih belum menampakkan dirinya, malu mungkin untuk melihat hari ini yang begitu kacau, atau mungkin malu karena kawanku sedang bersiap untuk melakukan pengabdian?Entahlah saat itu, aku benar-benar berdebar, pikiranku mencoba menerka, cerita apa yang akan aku dapat kali ini dari kegiatan pengabdian itu. Bagi kami, yang telah berkali-kali mengikuti kegiatan ini, selalu ada cerita berbeda, dan kenangan yang luar biasa, yang pastinya menjadi cerita seumur hidup.

Sekitar pukul 8, truk-truk mungkin sudah bersiap mengantarkan kawanku semua ke desa Patengan. Namun, Aku, tesar, Revelation, de Yur, dan Ustad Ikhsan berencana untuk tidak mengikuti rombongan. Baru sekitar pukul 10 kami pun berangkat. Menyusuri jalan-jalan yang berliku. Kawan tau apa yang kami pikirkan sepanjang perjalanan?-ya, kami mecoba untuk menerka seperti apa kegiatan pengabdian itu berlangsung.

Setelah kami sampai di sekitaran Ranca Bali, kamu disambut dengan pemandangan indah perkebunan teh, dengan aroma khas yang tidak kami ketemui di perkotaan. Sayangnya perjalanan terhenti akibat cuaca yang tidak mendukung. Kami menepi dan bercengkrama ditemani semangkok mie panas dan kebun teh yang terhampar luas.

Hujan pun berhenti dan kami melanjutkan perjalanan. Siang hari kami sudah sampai di desa itu, desa Patengan, kp.Bayongbong, dimana kami akan bergabung dengan aktor-aktor lainnya untuk melakukan rangkaian kegiatan yang lamanya satu minggu.

Kemudian petualangan itu pun berlanjut….

(bersambung)

Minggu, 08 Mei 2011

CATATAN BUKAN TERAKHIR (PART 1)


- Senin, 26 Juli 2010, Dubai international airport –

Wünsche immer die beste für euch und mich, und alles Güte

o Sebuah seri petualangan akan dimulai, ini bukanlah seri seperti si Bolang, yang mengisahkan kisah petualangan anak-anak negeri, tetapi ini adalah seri petualangan dari Bagus Sapa Handaru.

Minggu, 25 Juli 2010,
petualangan itu dimulai dari kota tercinta. Perjalanan melelahkan menuju Bogor menguras emosi dan stamina kami. Perjalanan itu aku mulai bersama orang tuaku. Sampai pada akhirnya, sekitar jam 18.30 WIB kami tiba di bandara SOETTA, terminal 2 D untuk penerbangan internasional. Kami harus menunggu sampai waktunya untuk check-in, sedangkan waktu take off yang aku dapat adalah jam 00.40 WIB. Waktu semakin membawaku ke dalam unknown vortex point, dimana pikiran dan ragaku seolah terpisah.

Jam 10.00 WIB. Ini adalah saatnya aku check-in. Saat itu juga aku mulai merasakan gejolak kesedihan, saat melihat kedua orang tuaku menatapku, penuh dengan harap, biarpun petualangan ini hanya sekitar satu bulan lamanya, mungkin bagi mereka adalah satu tahun. Dulu sekitar awal tahun 2009, aku teringat, aku meminta kepada orang tuaku, untuk meneruskan studi di Jerman. Namun, hal itu sangatlah mustahil, mengingat ekonomi keluarga tidaklah seperti Bakrie. “keinginan kamu sudah tercapai!” ucap orang tuaku, aku rasakan mata ini semakin perih. Pernakah kawan semua mempunyai mimpi?Dan mimpi itu bukanlah mimpi biasa, namun sebuah mimpi spesial dari bagian hidup kawan semua?Kemudian, mimpi itu terwujud, dan kesempatan itu datang ke depan mata kawan semua?Kira-kira seperti itulah perasaanku. Bagai luapan air panas, ingin rasanya meledak. Aku teringat sebuah kalimat yang terpatri jelas dalam pikiranku, “kesuksesan anak, adalah karena doa dan restu orang tua, karena orang tua kita selau mendoakan kita”. Pernah terlintas sebuah ketakutan besar dalam benakku, saat orang tuaku tidak mendoakan dan memberikan restu kepadaku. Perlahan wajah mereka menghilang dari pandangan, aku sudah ada di bagian imigrasi.

Saatnya boarding tiba.

Kemarin di bandara Soetta, di waiting area, aku masih melihat banyak orang Indonesia, dengan berbagai keperluan, seperti TKI, mungkin juga bisnis atau liburan.

00.30 WIB aku sudah ada di dalam pesawat. Dan menunggu waktu untuk take off. Banyak hal yang membuat aku tertawa sendiri. Mungkin karena itu adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat.

Selama perjalanan aku memainkan game yang ada, dan juga menonton Film. Seorang Arab berbadan besar dan gendut duduk di sebelah ku. Ingin rasanya aku terlelap dalam mimpi, tapi sangat tidak mungkin, orang arab itu mendengkur cukup keras, memaksa aku melihat ke bangku yang lain, berharap mendapat bangku kosong, namun nihil. Sampai pada saatnya mata ini terlelap begitu saja, dengan tangan kananku menyanggah kepalaku. Orang itu berbaring di bangku untuk 4 orang dan aku ada di ujung sebelah kiri. Benar-benar menyebalkan. Terlelap sekejap, terbangun oleh turbulensi dan tanganku mengenai kepala orang arab itu dan membuat dia terbangun. Seketika itu juga dia menatapku, spontan aku berkata “sorry sir, that’s not my fault, but pilot”. Dia kembali tertidur.

Saatnya makan tiba. Dan aku sedikit bingung dengan menunya..entah apa itu namanya menu pertama. Yang jelas sangat tidak enak. Tetapi menu breakfast Asparagus with omelet lumayan untuk ukuran lidah dan seleraku.

Dan sampailaha aku di Dubai. Membuka pembicaraan ringan dengan seorang bapak yang ingin ke Jeddah.

Dubai, sebuah kota yang konon di desain untuk para elite, gaya hidup yang serba mewah dan menunjukkan budaya baratnya. Terlihat dari sepanjang koridor keberangkatan yang dipenuhi dengan toko-toko serba mewah. Kaki ini terhenti di book store. Kawan semua tahu apa yang ingin aku lihat di toko buku itu?Sebuah kebiasaan yang aku lakoni bersama sahabat di Bandung, yaitu mencari buku tentang perjuangan-perjuangan akan kemerdekaan melawan rasisme. Dan tida ada buku tentang itu, justru yang banyak terpampang adalah buku tentang kedigdayaan Israel** di timur tengah dan sekutunya AS.

Aku tidak menjumpai buku-buku yang menceritakan sebuah perlawanan terhadap elite, seperti yang aku jumpai di Indonesia.



Dan disinilah aku, Dubai international airport, waiting room gate 206, menulis cerita amatir ini.