Powered By Blogger

Minggu, 08 Mei 2011

CATATAN BUKAN TERAKHIR (PART 1)


- Senin, 26 Juli 2010, Dubai international airport –

Wünsche immer die beste für euch und mich, und alles Güte

o Sebuah seri petualangan akan dimulai, ini bukanlah seri seperti si Bolang, yang mengisahkan kisah petualangan anak-anak negeri, tetapi ini adalah seri petualangan dari Bagus Sapa Handaru.

Minggu, 25 Juli 2010,
petualangan itu dimulai dari kota tercinta. Perjalanan melelahkan menuju Bogor menguras emosi dan stamina kami. Perjalanan itu aku mulai bersama orang tuaku. Sampai pada akhirnya, sekitar jam 18.30 WIB kami tiba di bandara SOETTA, terminal 2 D untuk penerbangan internasional. Kami harus menunggu sampai waktunya untuk check-in, sedangkan waktu take off yang aku dapat adalah jam 00.40 WIB. Waktu semakin membawaku ke dalam unknown vortex point, dimana pikiran dan ragaku seolah terpisah.

Jam 10.00 WIB. Ini adalah saatnya aku check-in. Saat itu juga aku mulai merasakan gejolak kesedihan, saat melihat kedua orang tuaku menatapku, penuh dengan harap, biarpun petualangan ini hanya sekitar satu bulan lamanya, mungkin bagi mereka adalah satu tahun. Dulu sekitar awal tahun 2009, aku teringat, aku meminta kepada orang tuaku, untuk meneruskan studi di Jerman. Namun, hal itu sangatlah mustahil, mengingat ekonomi keluarga tidaklah seperti Bakrie. “keinginan kamu sudah tercapai!” ucap orang tuaku, aku rasakan mata ini semakin perih. Pernakah kawan semua mempunyai mimpi?Dan mimpi itu bukanlah mimpi biasa, namun sebuah mimpi spesial dari bagian hidup kawan semua?Kemudian, mimpi itu terwujud, dan kesempatan itu datang ke depan mata kawan semua?Kira-kira seperti itulah perasaanku. Bagai luapan air panas, ingin rasanya meledak. Aku teringat sebuah kalimat yang terpatri jelas dalam pikiranku, “kesuksesan anak, adalah karena doa dan restu orang tua, karena orang tua kita selau mendoakan kita”. Pernah terlintas sebuah ketakutan besar dalam benakku, saat orang tuaku tidak mendoakan dan memberikan restu kepadaku. Perlahan wajah mereka menghilang dari pandangan, aku sudah ada di bagian imigrasi.

Saatnya boarding tiba.

Kemarin di bandara Soetta, di waiting area, aku masih melihat banyak orang Indonesia, dengan berbagai keperluan, seperti TKI, mungkin juga bisnis atau liburan.

00.30 WIB aku sudah ada di dalam pesawat. Dan menunggu waktu untuk take off. Banyak hal yang membuat aku tertawa sendiri. Mungkin karena itu adalah pertama kalinya aku menaiki pesawat.

Selama perjalanan aku memainkan game yang ada, dan juga menonton Film. Seorang Arab berbadan besar dan gendut duduk di sebelah ku. Ingin rasanya aku terlelap dalam mimpi, tapi sangat tidak mungkin, orang arab itu mendengkur cukup keras, memaksa aku melihat ke bangku yang lain, berharap mendapat bangku kosong, namun nihil. Sampai pada saatnya mata ini terlelap begitu saja, dengan tangan kananku menyanggah kepalaku. Orang itu berbaring di bangku untuk 4 orang dan aku ada di ujung sebelah kiri. Benar-benar menyebalkan. Terlelap sekejap, terbangun oleh turbulensi dan tanganku mengenai kepala orang arab itu dan membuat dia terbangun. Seketika itu juga dia menatapku, spontan aku berkata “sorry sir, that’s not my fault, but pilot”. Dia kembali tertidur.

Saatnya makan tiba. Dan aku sedikit bingung dengan menunya..entah apa itu namanya menu pertama. Yang jelas sangat tidak enak. Tetapi menu breakfast Asparagus with omelet lumayan untuk ukuran lidah dan seleraku.

Dan sampailaha aku di Dubai. Membuka pembicaraan ringan dengan seorang bapak yang ingin ke Jeddah.

Dubai, sebuah kota yang konon di desain untuk para elite, gaya hidup yang serba mewah dan menunjukkan budaya baratnya. Terlihat dari sepanjang koridor keberangkatan yang dipenuhi dengan toko-toko serba mewah. Kaki ini terhenti di book store. Kawan semua tahu apa yang ingin aku lihat di toko buku itu?Sebuah kebiasaan yang aku lakoni bersama sahabat di Bandung, yaitu mencari buku tentang perjuangan-perjuangan akan kemerdekaan melawan rasisme. Dan tida ada buku tentang itu, justru yang banyak terpampang adalah buku tentang kedigdayaan Israel** di timur tengah dan sekutunya AS.

Aku tidak menjumpai buku-buku yang menceritakan sebuah perlawanan terhadap elite, seperti yang aku jumpai di Indonesia.



Dan disinilah aku, Dubai international airport, waiting room gate 206, menulis cerita amatir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar