-Layar sudah terkembang, perahu ini siap untuk mengarungi ganasnya lautan. Pantang bagi kami untuk patah arang, dan kembali, sebelum tujuan itu tercapai.-
Seperti yang kawan ketahui, bahwa hari ini, negeri yang sekarang kita pijak berada dalam sebuah lubang hitam, yang akan membawa kita dalam ketidakpastian. Tapi kali ini, aku tidak ingin membicarakan hal tersebut, ingin aku membicarakan hal-hal yang pasti dan riil. Negeri ini, Indonesia, “membutuhkan aktor, bukan komentator” kata-kata ini aku kutip dari sebuah film pendek buatan seorang sahabat, yang sedang menimba ilmu di jerman (setia desta).
Beberapa hari ini aku merasakan peran sebagai aktor, aktor dari sebuah kegiatan bernama “pengabdian”, yang aku lakoni bersama ratusan actor, yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Aku yakin, bila ada semacam penghargaan actor terbaik dari FFI, maka kawan semua adalah actor-aktor terbaik. Seperti layaknya film Laskar pelangi dan laskar pemimpi, yang kemudian terwujud dalam pengabdian itu, dan serta merta membentuk Laskar P2M. Percayalah!karena ini semua bukanlah sekedar cerita, tapi semua ini adalah sebuah bentuk riil, tidak seperti para politikus yang hanya bisa melontarkan komentator atas kondisi negeri ini, biarpun yang kita lakukan masihlah sangat kecil, yaitu pengabdian di masyarakat yang termarjinalkan, desa Patengan, kp. Bayongbong.
-30 Januari 2010-
Laskar merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan sama dan besar, layaknya laskar Dumbledor dalam film HP, yang melawan kejahatan Voldemort, seperti Laskar Pelangi, yang mengejar angan-angan setinggi-tingginya. Namun, laskar kali ini, adalah laskar dengan sejuta angan-angan meniti pendidikan di daerah dan memasyarakatkan diri, mereka adalah “LASKAR P2M”
Kini kali ke-tiga bagi aku menjadi SC dalam pengabdian itu, dan kali ke-lima aku mengikutinya. Tahun 2006 adalah tahun pertama aku mengikuti kegiatan itu, yang bertempat di Subang, dengan status peserta sekaligus DPM. Di tahun berikutnya, 2007, di Majalaya, aku kembali berkeeampatan mengikuti kegiatan itu, sebagai status panitia. Tahun 2008, di Garut, aku dipercaya pertama kalinya menjadi SC dalam kegiatan itu, dengan status sekjen DSV. Pada tahun 2009, di Purwakarta aku diberikan amanah sebagai SC, biarpun status aku waktu itu adalah warga DSV. Dan akhirnya, mungkin tahun ini, 2011, Patengan, adalah tahun terakhir bagi aku untuk bisa menyumbangkan sumbangsih yang bisa aku berikan sebagai SC, dengan status DPM.
Pagi-pagi buta, saat matahari saja masih belum menampakkan dirinya, malu mungkin untuk melihat hari ini yang begitu kacau, atau mungkin malu karena kawanku sedang bersiap untuk melakukan pengabdian?Entahlah saat itu, aku benar-benar berdebar, pikiranku mencoba menerka, cerita apa yang akan aku dapat kali ini dari kegiatan pengabdian itu. Bagi kami, yang telah berkali-kali mengikuti kegiatan ini, selalu ada cerita berbeda, dan kenangan yang luar biasa, yang pastinya menjadi cerita seumur hidup.
Sekitar pukul 8, truk-truk mungkin sudah bersiap mengantarkan kawanku semua ke desa Patengan. Namun, Aku, tesar, Revelation, de Yur, dan Ustad Ikhsan berencana untuk tidak mengikuti rombongan. Baru sekitar pukul 10 kami pun berangkat. Menyusuri jalan-jalan yang berliku. Kawan tau apa yang kami pikirkan sepanjang perjalanan?-ya, kami mecoba untuk menerka seperti apa kegiatan pengabdian itu berlangsung.
Setelah kami sampai di sekitaran Ranca Bali, kamu disambut dengan pemandangan indah perkebunan teh, dengan aroma khas yang tidak kami ketemui di perkotaan. Sayangnya perjalanan terhenti akibat cuaca yang tidak mendukung. Kami menepi dan bercengkrama ditemani semangkok mie panas dan kebun teh yang terhampar luas.
Hujan pun berhenti dan kami melanjutkan perjalanan. Siang hari kami sudah sampai di desa itu, desa Patengan, kp.Bayongbong, dimana kami akan bergabung dengan aktor-aktor lainnya untuk melakukan rangkaian kegiatan yang lamanya satu minggu.
Kemudian petualangan itu pun berlanjut….
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar